Tawadhu’

Assalamualaikum Wr Wb
Salam sehat dan bahagia dari Surabaya.
Bulan Februari dan Maret adalah bulan sibuk ini akan terus berlangsung hingga bulan April. Undangan menjadi Narsum yg sudah tercatat mulai berjubel menandai jadwal beredarku.

Permintaan mulai dari ITS.. ada yang bersama suami ada juga yg sendiri, kmd dari DIM Lamongan dan DIM Bojonegoro, PLN Pasuruan, Lansia Bangkalan dan beberapa kota lagi yg belum diijinkan suami. Juga beberapa dari pengajian ibu² , mengisi rutin di komunitas ODHA dan Lansia (ini di rumah)

Alhamdulillah setiap menjadi Narsum banyak bertemu saudara² yang baru.. banyak ketemu permasalahan baru… dan pertanyaan tentang ilmu² baru yg belum pernah saya pelajari yang akhirnya mengharuskan saya mencari dan belajar lagi.

Banyak yang bertanya.. mohon maaf mbk Andri berapa kira² “honor” untuk menghadirkan Prof. Djoko menjadi pembicara di tempat kami? Karena teman² membutuhkan sekali informasi tentang kanker , bagaimana pencegahan.. dan bagaimana preventifnya secara benar.

Jawab saya..mewakili pesan beliau , Insha ALLOH beliau malah senang sekali jika ilmunya bisa dishare.. tidak usah berpikir untuk menghargai ilmu beliau dengan nominal duniawi. Untuk bisa menyebarkan ilmunya beliau perlu bantuan dari saudara² semuanya. Semakin banyak orang yang mengerti tentang ilmu beliau semakin bermanfaat sisa usia beliau. Tetapi karena kesibukannya memang agak sulit jika dilakukan di hari kerja.

Kalau jadwal saya memang lebih longgar karena saya ibu rumah tangga.. dan saya sudah diajari bertahun² oleh beliau tentang materi yang sama, tetapi bedanya memang Bahasa saya lebih membumi dan lebih banyak ceritanya

Banyak cerita kehidupan yang saya belum sempat saya tuliskan tetapi saya benar² belajar banyak di episode terakhir kehidupan saya ini tentang hal² yang baik..
Saya mulai belajar tentang TAWADHU’ meski sangat sulit. Tetapi pembelajaran untuk bisa tunduk dan menerima kebenaran dari siapapun.

Apalagi saya punya sifat dasar “Ngeyel dan keras hati” tetapi dengan menjadi relawan pendamping pasien saya harus mempunyai sifat ini. Saya harus bisa dekat kepada siapapun tanpa memandang status sosial, agar pasien² yang saya dampingi bisa merasa nyaman dan aman., mendapat teman berbagi yg kadang² juga ancurr cara njawabnya.

Saya harus memahami dengan merendahkan sayap kepada setiap manusia dengan selalu bersikap ramah dan menyenangkan.. selalu bergembira .. selalu tersenyum meski kadang masih perlu efek “gualak”

Anak² sering komplen kalau mamanya ini judhes dan keras sekali dalam mendidik mereka, tetapi akhirnya saat ini mereka faham ketika duluuuu sewaktu kecil mereka dicubit “Kecil.. dan melintirr hingga biru dan panas ” kalau berkata² kurang sopan.. dan tidak memberikan senyum dengan penuh hormat dan menghargai pada setiap tamu² ibu n bapaknya.

Saat dulu anak² jika meminta sesuatu tidak pernah saya tolak.. tetapi saya berikan pekerjaan yg harus dia kerjakan hingga tuntas dan nanti keuntungannya bagi hasil. Kami biasakan memenuhi kebutuhannya dengan usaha mereka sendiri. Anak² sudah biasa bekerja sejak kecil dan merasakan sulitnya mencari rejeki, dan pantang bilang “tidak bisa” sebelum mencoba.

Dan Alhamdulillah dengan begitu mereka sangat menghargai uang.. dan arti bersyukur.. ketika mendapatkan suatu rejeki sudah terbiasa mengeluarkan zakatnya. Pembelajaran tentang tawadhu yang otomatis mereka terima karena sebagai penyedia jasa mereka haruslah sopan.. jujur.. rendah hati dan menghargai orang lain.

Hal ini tidak didapat dari sekolah dimanapun kecuali dari pendidikan dari dalam rumah. Dan dari sini mereka sangat ketakutan jika tidak mengeluarkan Hak orang lain dari rejeki yang mereka terima.. ketakutan kepadaNya yang memberikan rejeki. Mereka sejak kecil sudah tertanam dalam benaknya bahwa rejeki itu dari ALLOH.. atas kemurahanNya dan semua juga atas ridhoNya.

Sehingga pertimbangan² mereka dalam memilih keagenan untuk MediTea juga melewati pertimbangan² ini, mereka bersama setelah mendapatkan ketentuan dari DPA tentang Keagenan masih melewati proses pertimbangan kemanusiaan.

Ada salah satu yg menyatakan menjadi agen dan bersedia membeli MediTea 1.000-2.000 box/bulan, oleh DPA sebenarnya ini yg diprioritaskan tetapi dengan pertimbangan Deifa Arshhanti Pratiwi justru ini yg pertama kali dicoret. Justru yg diprioritaskan adalah para pasien kanker dan keluarganya yg menyatakan kalau selain dijual , prioritasnya dikonsumsi sendiri tetapi dengan jumlah pembelian yg tidak banyak, tetapi sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka memprioritaskan saudara² dekat terlebih dahulu serta teman² dekat ibunya, karena mereka sudah mengenal karakter dari tante² dan Om² teman² ibunya terlebih dahulu.

Memang profit margin sebagai agen sangat kecil, jangan dibayangkan seperti produk² lainnya hingga disc. puluhan persen…ini adalah produk MLM (Multi Level Manfaat yang penuh dengan Kebaikan) yang ditujukan untuk membantu bukan untuk bisnis, inilah bedanya dengan produk lain yang bisa memberikan disc. Hingga puluhan hingga ratusan persen.

Banyak yang ingin menjadi agen dan menawar harga hingga puluhan persen, dan ini biasanya pasti orang sehat yang belum pernah merasakan bagaimana sulitnya menjadi pasien.Dan kami harus meminta maaf karena hal ini tidak bisa kami lakukan.. karena perhitungan antara bahan baku, proses produksi hingga harga jual kalau dihitung dengan perhitungan Bisnis duniawi memang sudah tidak masuk. Karena ruwetnya lebih banyak dari nilai profitnya, tetapi selalu ditekankan oleh suami bahwa keuntungan yang sedikit itu akan memanggil keuntungan yang lebih berkah di dunia dan akherat.

“Karena untung dan rugi itu hanya perhitungan manusia di dunia. Tetapi keuntungan sesungguhnya adalah bagaimana keuntungan yang sedikit ini bisa menjadi kendaraan kita menuju surgaNya. “ Jadi semakin banyak yang mendapatkan manfaat dari MediTea maka berkahNya akan semakin besar baik bagi yang membuat, menjual dan mengkonsumsinya”
Bersama Doa² kesembuhan.. doa kebaikan .. doa dari silaturahim selalu menyertai kita semuanya sehingga kita bisa diridhoiNya menjadi sehat dengan kebaikan² dari kesembuhan kita, terhindar dari penyakit dan mala petaka.. serta mendapatkan kebaikan² dunia akherat.

Banyak sekali teman² yang membeli MediTea tetapi untuk dibagi²kan.. yang dikonsumsi sendiri lebih kecil dari yang diberi²kan kepada saudara²nya.. dan testimoni dari mereka inilah yang menjadi “iklan” MediTea karena mereka menjadi lebih sehat.. lebih bahagia dari sebelumnya, sekaligus belajar tawadhu. Subhanalloh..

Hari ini saya mendapat video yang selaras dengan apa yang saya tulis.. sebagai self reminder bagi saya dan keluarga dari saudaraku yang saat ini sedang berjuang menggapai kesembuhan dari Ca Paru dan Infeksi jantung. Sangat bagus semoga bermanfaat

“Hidup tidak selamanya mulus, perlu batu kerikil supaya kita berhati-hati”
Perlu semak berduri agar kita selalu waspada
Perlu air mata supaya kita tahu cara merendahkan hati
Perlu persimpangan supaya kita lebih bijaksana dalam memilih
Perlu pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras
Perlu menerima dicela supaya kita tahu cara menghargai orang lain
Perlu orang lain agar kita tahu bahwa kita tidak sendiri

Jika ada masalah jangan menggerutu, marah apalagi mengeluh
Selesaikan dengan sabar, bersyukur dan selalu tersenyum
Teruslah melangkah, jangan takut berjalan

Saat tidak ada dinding untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud.
Perbuatan baik yang sempurna adalah yang tidak terlihat namun bisa dirasakan jauh di relung hati terdalam
Jangan pernah menghitung apa yang hilang, tapi hitunglah yang masih tersisa.

Sekecil apapun penghasilan kita pasti akan cukup untuk KEPERLUAN HIDUP.
Sebesar apapun penghasilan kita pasti akan kurang bila digunakan untuk GAYA HIDUP.

Tidak selamanya kata-kata indah itu BENAR
Juga tidak selamanya kata-kata yang menyakitkan itu SALAH

HIDUP INI TERLALU SINGKAT
LEPASKAN MEREKA YANG MENYAKITIMU
SAYANGI MEREKA YANG PERDULI KEPADAMU

BERJUANGLAH UNTUK MEREKA YANG BERARTI BAGIMU
BERTEMANLAH DENGAN SEMUA ORANG, TAPI BERGAULLAH DENGAN ORANG YANG BERISTEGRITAS DAN MEMPUNYAI NILAI HIDUP YANG BENAR
KARENA PERGAULAN AKAN MEMPENGARUHI CARA HIDUP DAN MASA DEPAN KITA

“Jika Allah mudahkan bagimu mengerjakan solat malam, maka janganlah memandang rendah orang-orang yang tidur.”
“Jika Allah mudahkan bagimu melaksanakan puasa, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak bepuasa dengan tatapan menghinakan.”
“Jika Allah memudahkan bagimu pintu utk berjihad, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan meremehkan.”
“Jika Allah mudahkan pintu rezeki bagimu, maka janganlah memandang orang-orang yang berhutang dan kurang rezekinya dengan pandangan yg mengejek dan mencela. Kerana itu adalah titipan Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.”
“Jika Allah mudahkan pemahaman agama bagimu, janganlah meremehkan orang lain yg belum faham agama dengan pandangan hina.”
“Jika Allah mudahkan ilmu bagimu, janganlah sombong dan bangga diri kerananya. Sebab Allah lah yang memberimu pemahaman itu.”
“Dan boleh jadi orang yang tidak mengerjakan qiyamul lail, puasa (sunnah), tidak berjihad, dan sepertinya lebih dekat kepada Allah darimu.”

“Sesungguhnya jika engkau terlelap tidur semalaman dan pagi harinya menyesal… lebih baik bagimu daripada qiyamul lail semalaman namun pagi harinya engkau “merasa” TAKJUB dan BANGGA dengan amalmu. Sebab tidak layak orang merasa bangga dengan amalnya, kerana sesungguhnya dia tidak tahu amal yang mana yang Allah akan terima?

Bukan sebuah kebetulan jika Rasululloh dalam sabdanya mengatakan
“JARAK DEKAT SEORANG HAMBA DENGAN RABBNYA ADALAH SAAT BERSUJUD. KEPALA YANG MENJADI SUMBER BERPIKIR DAN SUMBER KECERDASAN, DIRENDAHKAN SERENDAH²NYA HINGGA SEJAJAR DENGAN TELAPAK KAKI.

NAMUN DI SAAT ITU ALLOH MENDEKAT DENGAN SANGAT DEKAT KEPADA HAMBA NYA

Semoga tulisan ini bermanfaat…

Wassalamualaikum Wr Wb

Andriani Primardiana
30/1/2018
f/ceritakehidupan3