EDUKASI KANKER 3

EDUKASI KANKER 3

Assalamualaikum Wr Wb
EDUKASI KANKER 3

Jadi semua DNA itu pada awalnya adalah normal dengan jumlah electron yang stabil, tetapi ketika ada kerusakan pada DNA maka elektronnya hilang, disinilah awal biang keroknya?? Terus siapa yang mencuri elektron² tersebut?? Ada yang namanya ROS (Reactive Oxygen Spesies) atau kita sebut dengan radikal bebas.

ROS ini yang mencuri electron pada DNA yang normal sehingga terjadilah ketidak stabilan dari electron yang menyebabkan DNA kita rusak. Karena adanya oksidasi oleh radikal bebas ini maka terjadilah mutase DNA yang mengakibatkan berbagai penyakit degenerative, seperti tumor, kanker, serta banyak penyakit metabolisme yang lain.

Nah, dengan mengetahui karakteristik kanker seperti di atas, sebetulnya bisakah kanker diberantas? Jawabannya tentu saja bisa, hanya saja tingkat keberhasilan dari upaya penyembuhan itu sendiri berbeda untuk masing-masing individu, bergantung pada stadium berapa kanker terdeteksi dan tingkat kekebalan individu itu sendiri.

Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang untuk sembuh. Dari sini kita dapat mengetahui betapa pentingnya regular medical check up itu yakni untuk mengetahui adanya penyakit-penyakit yang barangkali keberadaannya masih belum disadari namun akan membawa efek sangat merugikan di kemudian hari.

Jika pasien sudah telaten menjalani pengobatan kanker dari sejak awal tapi nyatanya stadium kanker Anda terus naik, bukan berarti pengobatannya yang salah. Sel kanker tidak bisa diprediksi sama sekali perkembangannya. Terlebih, tidak ada satu pun tindakan medis yang bisa menjamin sel kanker akan berhenti berkembang total sehingga peluang kanker menyebar tetap ada.

Tidak ada kanker yang lebih baik atau yang lebih parah. Setiap jenis kanker sama berbahayanya dan sama-sama perlu pengobatan yang tepat agar tidak berakibat fatal.

Bedanya, setiap orang yang memiliki kanker dengan stadium 4 mungkin merasakan intensitas rasa sakit yang berbeda. Sebab masing-masing orang memiliki kondisi kesehatan yang berbeda-beda saat menghadapi kanker. Maka itu, beban kanker yang dialami masing-masing orang akan berbeda.

Tidak ada satu pengobatan kanker yang pasti cocok untuk mengobati semua jenis kanker. Ada begitu banyak pilihan pengobatan untuk kanker di stadium lanjut. Jika cara yang satu sudah tidak efektif atau memang tidak mempan dari awal, biasanya ada perawatan lain yang akan dicoba.

Jika pengobatan tersebut tidak mempan untuk satu orang, bukan berarti akan pasti gagal juga untuk Anda. Pengobatan yang diberikan akan mengandung dosis yang berbeda-beda untuk tiap pasien.

Kondisi kesehatan tubuh di luar kanker juga menjadi pertimbangan dokter. Jika ada kondisi medis tertentu selain kanker, pengobatan pun akan disesuaikan menurut kondisi Anda keseluruhan.

Bukan hanya melihat kankernya saja.
Apapun jenis penanganannya, mulai dari terapi radiasi, kemoterapi, operasi, tetap saja masih ada peluang untuk sel kanker untuk terus berkembang. Upaya penyembuhan (kuratif) kanker menggunakan banyak metode yang antara lain:

KEMOTERAPI

Kemoterapi : terapi ini menggunakan obat-obatan misalnya saja golongan siklofosfamid, methotreksat, dan 5-flurorasil dll. Pada dasarnya kinerja obat-obatan tersebut sama yaitu menghambat proliferasi sel sehingga sel tidak jadi memperbanyak diri.

Kemoterapi bisa diberikan secara tunggal ( satu macam obat saja) atau kombinasi, dengan harapan bahwa sel-sel yang resisten terhadap obat tertentu juga bisa merespon obat yang lain sehingga bisa diperoleh hasil yang lebih baik. Dampaknya pada pasien biasanya rambut rontok, selera makan menurun, rasa lemah dan letih.

TERAPI HORMON

Terapi ini digunakan untuk jenis kanker yang berkaitan dengan hormon misalnya kanker payudara (berkaitan dengan hormon estrogen) pada wanita dan kanker prostat (berkaitan dengan hormon androgen) pada pria.

Terapi hormon pada dasarnya berusaha menghambat sintesis steroid sehingga sel tidak dapat membelah. Terapi ini membawa dampak negatip bila diaplikasikan pada wanita yang masih dalam usia subur karena dapat menghambat siklus menstruasi.

Terapi hormon bekerja dengan cara mengecilkan sel tumor sebelum tindakan operasi atau radiasi, mengurangi risiko sel kanker muncul kembali, dan menghancurkan sel kanker. Efek samping yang dapat timbul adalah penurunan gairah seksual, diare, mual, kelelahan, dan tulang rapuh.

RADIOTERAPI

Terapi ini menggunakan sinar-X dengan dosis tertentu sehingga dapat merusak DNA dan “memaksa” sel untuk berapoptosis. Efek negatip yang ditimbulkan hampir sama dengan kemoterapi.
Ketiga terapi di atas memiliki kelemahan yang relatif sama.

Karena kerjanya yang tidak spesifik, jadilah mereka menyerang agak sporadis pada seluruh sel tanpa bisa membedakan mana yang sel kanker dan mana yang sel normal. Yang berbahaya disini adalah sinar sesatan (bauran) yang mengenai daerah sekitarnya

Dampak negatip ditimbulkan karena ketakspesifikan ini. Oleh karena itu, para peneliti berusaha mengembangkan metode terapi kanker yang spesifik.

Beberapa efek samping pada pemberian radioterapi secara tunggal adalah timbulnya diare, muntah dan mual yang sangat mengganggu.

TERAPI PROTON

Terapi proton seperti halnya radioterapi, bekerja dengan cara mengarahkan partikel ion energetik yakni proton menuju tumor sasaran. Partikel proton ini merusak DNA sel sehingga menyebabkan kematian sel tumor. Karena laju pembelahan sel yang tinggi serta kemampuannya menjadi berkurang untuk memperbaiki kerusakan DNA, sel kanker peka terhadap serangan partikel proton ini pada DNA sel kanker.

IMUNOTERAPI

Terapi kanker dengan meggunakan imun berlandaskan pemeriksaan imun, yakni fungsi fisiologi sistem imun untuk mengenali dan menghancurkan klonal sel yang telah berubah sifat sebelum sel tersebut tumbuh menjadi tumor serta membunuh sel tumor jika sel tumor tersebut telah terbentuk.

Sistem imun tersusun dari berbagai tipe sel, diantaranya, sel dendrit yang disebut sebagai sel penghadir antigen yang bekerja menangkap antigen dan menunjukkan mereka ke sel-sel lain yang disebut sel efektor (misal, limfosit T sitotoksik). Jika molekul yang hadir “dilabeli” sebagai bahaya, maka sistem imun menyusun respon spesifik untuk menghilangkan bahaya tersebut.

Prosedur ini dilakukan untuk membantu sistem imun melawan sel kanker. Caranya dengan merangsang sistem imun menghentikan pertumbuhan sel kanker dan memberikan zat khusus yang berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh buatan (seperti protein imun).

Jenis imunoterapi kanker adalah antibodi monoklonal, vaksin kanker, dan terapi sel-T. Efek samping imunoterapi berupa demam, mual, muntah, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, sesak napas, serta hipotensi atau hipertensi.

NANOMEDIS

adalah aplikasi medis dari teknologi nano. Ini mencangkup bidang semisal transpor obat partikel nano dan aplikasi masa depan yang mungkin dari teknologi nano molekuler dan vaksinologi nano.
Masalah saat ini untuk nanomedis, mencangkup pemahaman terkait dengan toksik dan dampak lingkungan material skala nano.

Partikel nano cadmium selenide (kuantum dot) memancarkan cahaya ketika terpapar cahaya ultra ungu. Ketika diinjeksikan, partikel nano cadmium selenide tersebut menembus sel kanker. Ahli bedah dapat melihat tumor yang berpendar, dan menggunakannya sebagai pemandu untuk pengambilan sel tumor dengan lebih akurat.

Chip uji sensor mengandung ribuan kawat nano (nanowire) mampu mendeteksi protein dan biomarker lain yang ditinggalkan sel kanker, memungkinkan pendeteksian dan diagnosis kanker tahap dini dari beberapa tetes sampel darah.

TERAPI TARGET

Pengobatan kanker yang menargetkan sel kanker menggunakan obat atau zat lainnya. Terapi ini berfungsi menghambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker tanpa merusak sel sehat yang berada di sekitarnya. Tindakan ini juga berpotensi menimbulkan efek samping, berupa diare, gangguan organ hati, hipertensi, kelelahan, kulit kering, serta perubahan warna kuku dan rambut.

Referensi:
1. http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=260084
2. http://en.wikipedia.org/wiki
3. R.J.B King, 1998, Cancer Biology, Prentice Hall. New York.
4. F. Castiglione, B. Piccoli, J. Theo. Biology 247 (2007) 723-732.
5. http://www.wordiq.com
6. http://www.centerwatch.com
7. http://www.ib.be/cefs/dietandcancer.htm
8. Sri Widyarti, et.al., 2004, Efek Bioflavonoid Quercetin pada neoplasi paru-paru, FMIPA Unibraw, Malang.
9. Kanker : Pertumbuhan, Terapi dan Nanomedis –http://www.nano.lipi.go.id

Demikian dahulu materi Edukasi kanker ke 3 ini ya.. ternyata banyak sekali yang dibahas.. Untuk pembahasan bagaimana jika electron yang dicuri pada DNA nya ditambah?? Apakah DNA nya bisa stabil kembali?? Apakah tidak ada yang bisa melawan ROS?? Bagaimana kita menangkap ROS dan cara menghilangkannya?? Dibahas di materi yang ke 4

Emak mau jenguk Ananda Sintoko yang sedang drop, kemarin sempat dibawa ke RSDS ttp karena penuh maka dirujuk ke RSUA Alhamdulillahnya hikmahnya ketika nyampai RSUA ternyata RSDS kebakaran.. , Sintoko ini perlu transfuse darah AB 10 kantong dan dia masih antri nunggu kabar baik dari PMI sebab tahu sendiri ya, darah tersebut sangat jarang.

Tentang penderita ini Sintoko adalah mualaf keturunan, istrinya Supiyah (Upik) sel kankernya yang sejak 4th yg lalu posisinya sangat sulit sehingga meski sudah antri bertahun² di RSDS belum ada tindakan yang dilakukan. Ceritanya nanti ya.. setelah pulang dari RSUA..

Wassalamualaikum wr Wb
Andriani Primardiana

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


WhatsApp chat